Apalah artinya kita mempunyai kebaikan yang banyak apabila kita masih sulit menjaga kesucian diri!
Kebaikan yang kita lakukan apabila tidak berbekas kepada perbaikan diri laksana patamorgana di siang hari... ia kelihatan mengagumkan di kejauhan namun tidak tampak sedikit pun ketika dicari!
Semakin diburu semakin dicari yang ada hanya setapak jalan yang tampaknya biasa-biasa saja tidak ada sesuatu yang mengagumkan...
Saudaraku... Kalau hanya kebaikan semu yang kita lakukan, itu ada larangan yang dikhususkan bagi kita. Bahkan masuk surga pun tidak jadi manakala kebaikan bukan lagi karena Allah!
Saudaraku... Sayang memang hanya tinggal sejengkal masuk surga, orang harus ditarik kembali masuk neraka! Ingatlah... karena lebih mengutamakan dunia, pandangan manusia, serta pujian mereka, yang ada hanya penyesalan yang tiada batasnya!
Saudaraku... kalau pun kebaikan itu hanya untuk Allah namun kita masih sekali-kali melupakannya, ini pun harus dihindari... sebab Junjunan kita Muhammad saw pernah bersabda:
"Aku sungguh mengetahui ada segolongan di antara umatku mereka datang pada hari qiyamat dengan kebaikan yang begitu banyak laksana gunung tihamah yang putih, namun sayang amalan mereka Allah jadikan seperti debu yang berterbangan, mereka seperti kalian, kulitnya pun sama seperti kalian, bahkan mereka suka bangun tengah malam (untuk beribadah)... akan tetapi mereka adalah suatu kaum yang senantiasa melakukan larangan Allah ketika menyendiri..."
Saudaraku... ketika sendirian, manakala iman lemah apa pun bisa terjadi, kita tidak menghiraukan malaikat pencatat kebaikan dan keburukan, bahkan Allah ketika itu kita lupakan seolah-olah Dia tidak ada!
Saudaraku... Ingatlah akan firman-Nya yang melarang kita untuk melupakan-Nya: "Janganlah kalian seperti orang yang lupa terhadap Allah, maka Allah pun melupakan mereka, mereka itulah orang-orang yang fasik".
Fasik... Sebutan bagi orang yang tidak mengindahkan keberadaan Allah, maka wajar sebanyak apa pun amalan seseorang dan itu berupa kebaikan ... Allah tidak menghiraukannya manakala Dia tidak dihiraukan!
Balajarlah untuk mendekati Allah setahap demi setahap! Maka Insya Allah dengan sendirinya air mata keluar begitu deras, pengharapan dan ketakutan tidak mendapat rahmat Allah semakin tinggi, karena diri ini sadar akan kepatutan mendapatkan kebahagiaan yang abadi belum tentu kita raih... itulah yang dirasakan dan ditunjukan oleh para sahabat yang senantiasa menangis disebutkan kata neraka, dan tertunduk malu ketika disebut-sebut surga!
Saudaraku... Janganlah kita seperti orang yang bodoh! Berangan angan masuk surga, berangan angan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, tetapi hawa nafsu masih menjadi nakoda yang mengantarkan kita dalam beramal!
Saudaraku... Hendaklah kita menjadi orang pintar! yang senantiasa menjaga diri dan beramal sholeh sebagai perbekalan nanti di kehidupan yang abadi!
Saudaraku... Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya sementara Dia tidak kelihatan, maka mereka itulah yang akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar..."
Jumat, 13 Agustus 2010
Minggu, 18 Juli 2010
PELAJARAN DARI UHUD bag 2
Lebih mengutamakan Allah, Rasul, dan jihad di jalan-Nya adalah syarat mutlak apabila kita menginginkan kebahagiaan yang hakiki. Allah memberikan gambaran yang sempurna sebagai jawaban orang-orang yang berfikiran bahwa kelompok merekalah yang paling bersih, yang paling diterima imannya, ahlu sunnah wal jama'ah, dan selogan-selogan yang lainnya yang tentunya menapikan satu sama lain, sebagaimana firman Allah di dalam Surat al-Hasyr:
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung“. (QS. Al Hasyr, ayat 8-9)
Dalam ayat di atas, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin, dan setelah itu baru menyebutkan keutamaan kaum Anshar. Kaum Muhajirin mendapat gelar “orang-orang yang benar”, dan kaum Anshar mendapat gelar “orang-orang yang beruntung”.
Allah mengajarkan kita untuk saling menghargai, saling mengakui perbedaan di antara kelompok kaum muslimin, malah dengan adanya perbedaan itu Allah memerintahkan kepada kita semua untuk berlomba-lomba, berkompetisi mencari serta mengerjakan kebaikan sebanyak-banyaknya. Sebagaimana firman Allah di dalam surat al-Maidah ayat 48, yang artinya:
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
Bukan tidak mampu Allah menjadikan umat ini menjadi satu umat saja, namun dengan perbedaan yang dikehendaki manusia sendiri justeru Allah memberi jalan kepada mereka untuk membuktikan hasil renungannya di dalam menghayati kehidupan ini, bukankah hidup itu merupakan ujian yang harus kita tempuh? sebagaimana firmannya di dalam surat al-mulk ayat 2, yang artinya : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Sejalan dengan fitrah agama yang Allah turunkan kepada umatnya yang tidak memaksakan kehendak, dengan ini pun Allah memberikan pelajaran kepada nabi Muhammad saw dengan sebuah do'a di dalam shalat yang dilakukan olehnya sepanjang malam yang tidak biasa dilakukan oleh beliau di dalam shalat malam shalat malam sebelumnya, sebagaimana yang diriwayatkan imam Ahmad berikut ini:
Telah menceritakan kepada kami Yunus dia berkata, telah menceritakan kepada kami Laits dari Abu Wahb Al Khaulani dari seorang laki-laki yang ia sebutkan namanya, dari Abu Bashrah Al Ghifari seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku meminta kepada Rabbku Azza wa Jalla empat perkara, lalu Dia memberiku tiga perkara dan menolak satu perkara; aku meminta kepada Rabbku agar umatku tidak bersepakat atas kesesatan lalu Dia mengabulkannya, lalu aku meminta Allah Azza wa Jalla agar tidak membinasakan kalian dengan paceklik sebagaimana dibinasakannya umat sebelum kalian lalu Dia mengabulkannya, dan aku meminta Allah Azza wa Jalla agar tidak menjadikan mereka bergolong-golongan dan sebagian mereka memerangi sebagian yang lain, namuan Dia menolaknya." Sumber : Ahmad, Kitab : Musnad dari beberapa kabilah, Bab : Hadits Abu Bashrah Al Ghifari Radliyallahu 'anhu, No. Hadist : 25966
Subhanallah! Maha benar Allah atas segala firman-Nya ternyata penolakan Allah tersebut membuktikan bahwa Allah memberikan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya untuk memubuktikan ajaran ini dengan sejelas-jelasnya. Bukankah nabi Ibrahim karena ketidakjelasannya ibadah, beliau pernah menyembah bulan yang pada akhirnya tidak dia sembah ketika tidak muncul di siang hari.
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung“. (QS. Al Hasyr, ayat 8-9)
Dalam ayat di atas, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin, dan setelah itu baru menyebutkan keutamaan kaum Anshar. Kaum Muhajirin mendapat gelar “orang-orang yang benar”, dan kaum Anshar mendapat gelar “orang-orang yang beruntung”.
Allah mengajarkan kita untuk saling menghargai, saling mengakui perbedaan di antara kelompok kaum muslimin, malah dengan adanya perbedaan itu Allah memerintahkan kepada kita semua untuk berlomba-lomba, berkompetisi mencari serta mengerjakan kebaikan sebanyak-banyaknya. Sebagaimana firman Allah di dalam surat al-Maidah ayat 48, yang artinya:
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
Bukan tidak mampu Allah menjadikan umat ini menjadi satu umat saja, namun dengan perbedaan yang dikehendaki manusia sendiri justeru Allah memberi jalan kepada mereka untuk membuktikan hasil renungannya di dalam menghayati kehidupan ini, bukankah hidup itu merupakan ujian yang harus kita tempuh? sebagaimana firmannya di dalam surat al-mulk ayat 2, yang artinya : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Sejalan dengan fitrah agama yang Allah turunkan kepada umatnya yang tidak memaksakan kehendak, dengan ini pun Allah memberikan pelajaran kepada nabi Muhammad saw dengan sebuah do'a di dalam shalat yang dilakukan olehnya sepanjang malam yang tidak biasa dilakukan oleh beliau di dalam shalat malam shalat malam sebelumnya, sebagaimana yang diriwayatkan imam Ahmad berikut ini:
Telah menceritakan kepada kami Yunus dia berkata, telah menceritakan kepada kami Laits dari Abu Wahb Al Khaulani dari seorang laki-laki yang ia sebutkan namanya, dari Abu Bashrah Al Ghifari seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku meminta kepada Rabbku Azza wa Jalla empat perkara, lalu Dia memberiku tiga perkara dan menolak satu perkara; aku meminta kepada Rabbku agar umatku tidak bersepakat atas kesesatan lalu Dia mengabulkannya, lalu aku meminta Allah Azza wa Jalla agar tidak membinasakan kalian dengan paceklik sebagaimana dibinasakannya umat sebelum kalian lalu Dia mengabulkannya, dan aku meminta Allah Azza wa Jalla agar tidak menjadikan mereka bergolong-golongan dan sebagian mereka memerangi sebagian yang lain, namuan Dia menolaknya." Sumber : Ahmad, Kitab : Musnad dari beberapa kabilah, Bab : Hadits Abu Bashrah Al Ghifari Radliyallahu 'anhu, No. Hadist : 25966
Subhanallah! Maha benar Allah atas segala firman-Nya ternyata penolakan Allah tersebut membuktikan bahwa Allah memberikan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya untuk memubuktikan ajaran ini dengan sejelas-jelasnya. Bukankah nabi Ibrahim karena ketidakjelasannya ibadah, beliau pernah menyembah bulan yang pada akhirnya tidak dia sembah ketika tidak muncul di siang hari.
Jumat, 16 Juli 2010
PELAJARAN DARI UHUD bag 1
Setiap kali peperangan usai, kelompok yang menang maupun yang kalah biasanya mencari teman-temannya yang lain, dengan harapan kalau ada yang luka di antara mereka, mereka dapat ditolong dan diobati, kalaupun sudah meninggal mereka dikuburkan di tempat pemakaman kaum muslimin!
Begitupun apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw, beliau mengutus Zaid bin Tsabit untuk mencari beberapa orang sahabat yang mungkin masih bisa ditolong. Pada waktu itu tepatnya sehabis peperangan uhud, Rasulullah menyuruh kepada Zaid bin Tsabit untuk mencari Sa'ad bin Rabi', hal itu diperintahkan Rasulullah saw karena beliau melihat secara langsung bagaimana ujung-ujung tombak masih menancap padanya, seraya berkata kepada Zaid bin Tsabit: "Jika engkau menemukannya, sampaikan ada salam dari ku, beliau juga menyuruh untuk menanyakan apa yang telah dia dapatkan? (dari peperangan ini)
Pergilah beliau mencari Sa'ad bin Rabi', setelah berkeliling mencari, didapati ia dalam keadaan luka parah dengan tujuh puluh luka yang menganga, lalu Zaid bin Tsabit rs. berkata kepdanya:
يا سعد . إن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقرأ عليك السلام ، ويقول لك : أخبرني كيف تجدك؟
"Ya Sa'ad sesungguhnya Rasulullah saw mengirim salam kepadamu, dan beliau menyuruh untuk menanyakan apa yang kamu dapatkan"?
فقال : وعلى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - السلام . قل له : يا رسول الله أجد ريح الجنة
"Katakan kepada Rasulullah saw, aku mencium harum surga",
وقل لقومي الأنصار : لا عذر لكم عند الله إن خُلص إلى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وفيكم عين تطرف
Katakan pula kepada kaumku Anshar: Kalian tidak perlu lagi mencari alasan di sisi Allah nanti, jika memang Rasulullah saw selamat dan kalian melihat dengan mata kalian sendiri." Setelah itu ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Pada kesempatan yang sama para sahabat menemukan orang yang bernama Ushairim, sebagaimana yang disebutkan sahabat Abu Hurairah ra., ia berkata: “Ceritakan kepadaku orang yang masuk Surga tanpa pernah mengerjakan shalat sekalipun. Jika orang-orang tidak mengenalnya, mereka bertanya kepadanya (Abu Hurairah), ia menjawab bahwa orang tersebut adalah Ushairim, seorang dari Bani Abdul Asyhal, yakni Amr bin Tsabit bin Waqasy. Al-Hushain berkata: ‘Aku bertanya kepada Mahmud bin Asad: “Bagaimana perihal keadaan Ushairim?” Dia menjawab: “Sebelumnya Ushairim tidak menghendaki Islam tersebar di tengah kaumnya. Namun ketika Rasulullah berangkat ke Uhud, tiba-tiba timbul keinginan di hatinya untuk masuk Islam. Kemudian ia pun masuk Islam. Setelah itu ia mengambil pedang dan berangkat ke Uhud hingga tiba di tengah peperangan. Ia bertempur hingga terluka. Ketika orang-orang dari Bani Abdul Asyhal mencari korban-korban mereka di perang Uhud, mereka menemukan Ushairim. Mereka berkata: “Demi Allah ini adalah Ushairim, mengapa mereka datang kemari? Sungguh kami tinggalkan ia karena ia tidak mempercayai berita ini.” Maka mereka bertanya kepada Ushairim apa yang menyebabkan ia datang ke Uhud. Mereka bertanya:
مَا جَاءَ بِك يَا عَمْرُو ؟ أَحَدَبٌ عَلَى قَوْمِك أَمْ رَغْبَةٌ فِي الْإِسْلَامِ؟
“Apa yang mendorongmu datang kemari, wahai Abu Amr, apakah karena kecintaanmu kepada kaummu ataukah kecintaanmu kepada Islam?”
بَلْ رَغْبَةٌ فِي الْإِسْلَامِ آمَنْت بِاَللّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَسْلَمْت
Ushairim menjawab: “Aku datang karena kecintaanku kepada Islam. Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta masuk Islam.
Setelah itu aku mengambil pedang dan menyusul Rasulullah, lalu bertempur hingga terluka seperti ini.” Tidak lama setelah itu Ushairim menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan mereka. Kemudian mereka menyampaikan perihal Ushairim kepada Rasulullah dan beliau bersabda: “Sungguh ia termasuk penghuni Surga.”
Dikisahkan dalam sebuah hadis Sumber Bukhari, Kitab : Jihad dan penjelajahan, Bab : Sesungguhnya Allah akan menguatkan agama ini dengan orang durhaka (fajir), No. Hadist : 2834 :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ شَهِدْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يَدَّعِي الْإِسْلَامَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلَمَّا حَضَرَ الْقِتَالُ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالًا شَدِيدًا فَأَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الَّذِي قُلْتَ لَهُ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّهُ قَدْ قَاتَلَ الْيَوْمَ قِتَالًا شَدِيدًا وَقَدْ مَاتَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى النَّارِ قَالَ فَكَادَ بَعْضُ النَّاسِ أَنْ يَرْتَابَ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذَلِكَ إِذْ قِيلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلَكِنَّ بِهِ جِرَاحًا شَدِيدًا فَلَمَّا كَانَ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى الْجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ثُمَّ أَمَرَ بِلَالًا فَنَادَى بِالنَّاسِ إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; "Ketika kami sedang ikut dalam suatu peperangan bersama Rasulullah saw., Beliau berkata kepada seseorang yang mengaku dirinya telah masuk Islam; "Orang ini termasuk penduduk neraka". Ketika terjadi peperangan orang tadi berperang dengan sangat berani lalu dia terluka kemudian dikatakan (kepada Beliau); "Wahai Rasulullah, orang yang Baginda maksudkan tadi sebagai penduduk neraka, dia telah berperang hari ini dengan sangat berani dan dia telah gugur". Maka Nabi saw. berkata: "Dia akan masuk neraka". (Abu Hurairah) berkata; "Orang-orang semuanya jadi Ragu. Ketika dalam keraguan seperti itu, ada orang yang mengabarkan bahwa orang yang berperang tadi tidaklah mati melainkan setelah mendapatkan luka yang sangat parah namun ketika pada malam harinya dia tidak shabar atas luka yang dideritanya hingga akhirnya dia bunuh diri. Kejadian ini kemudian dikabarkan kepada Nabi saw., maka Nabi saw. bersabda: "Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku ini hamba Allah dan Rasul-Nya". Kemudian Beliau memerintahkan Bilal agar menyerukan manusia bahwa tidak akan masuk surga melainkan jiwa yang pasrah dan Allah bisa jadi menolong agama ini melalui seorang yang berdosa".
Yang menarik dari akhir kehidupan tiga sahabat di atas adalah adanya pembicaraan "kaum = قوم" yang berkaitan dengan wasiat, peringatan, dan bahan renungan bagi kita. Yang mana kaitannya dengan ke tiga sahabat tersebut semuanya berbeda satu sama lain; 1) Ada yang kaitannya karena menjalankan wasiat untuk menjalankan perintah kebajikan, 2) Ada yang niatnya karena memilih keislaman, dan 3) dan ada yang niatnya karena suatu kaum.
Yang pertama, diwakili oleh sahabat Sa'ad bi Rabi', ia menjadikan ketaatan di atas segalanya, ia membuktikan kecintaan terhadap rasul-Nya sebagai ketaatan yang semestinya (Taat kepada Allah, taat kepada rasul-Nya), itu tercermin ketika dia mengatakan kepada sahabat Zaid dengan perkataan : "Katakan pula kepada kaumku Anshar: Kalian tidak perlu lagi mencari alasan di sisi Allah nanti, jika memang Rasulullah saw selamat dan kalian melihat dengan mata kepala sendiri.
Hal tersebut merupakan cerminan keimanan yang sesungguhnya, yakni menjadikan kecintaan terhadap Allah dan rasul-Nya di atas segalanya, sehingga tercermin dari wasiat kepada kaumnya, dengan kata-kata yang seolah-olah ia memerintahkan untuk mewujudkan kecintaan tersebut kepada rasulullah saw.
Subhanallah, balasan Allah tidak hanya di akhirat nanti untuk kemuliaan seorang Sahabat seperti sa'ad bin Rabi', namun Allah memberikan kebahagiaan itu dengan bau harum surga yang ia cium ketika ia masih di dunia waktu menjelang ajalnya. (Dengan pertanyaan rasulullah saw kepada beliau mengenai apa yang telah didapatkannya, itu menunjukan bahwa perhatian rasulullah saw terhadap keikhlasan seseorang sangat diperhatikan, mungkin tanggung jawab moral sudah menjadi ahlak beliau ketika merespon kebaikan, ketika melihat ahlak seorang Sa'ad bin Rabi')
Yang ke dua, diwakili oleh sahabat Ushairim, walaupun kata sahabat Abu Hurairah beliau belum sempat melakukan shalat, tapi beliau mampu membedakan mana hal yang harus disimpan di awal, di tengah, dan di akhir, beliau bisa memprioritaskan masalah, bahkan beliau dengan cerdas memilih keikhlasan yang tentunya hal tersebut yang mengantarkan dia mendapatkan jawaban dari tindakan ikut ke medan perang bersama rasulullah saw.
Ketika para sahabat menanyakan kebenaran tentang keislamannya, maka dengan mantap dia menjawab: "Aku telah islam dan aku lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah dan rasulnya dibandingkan harus lebih memilih kecintaanku terhadap kaumku. sehingga ketika hal ini sampai kepada rasulullah saw, beliau bersabda: “Sungguh ia termasuk penghuni Surga.”
Ya surga! Balasan bagi orang yang mengutamakan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, karena dia telah memilih Allah, rasul-Nya, dan jihad di jalan Allah sebagai komando yang menggerakan hatinya untuk melesat ke depan (tapi kan keburu meninggal belum sholat pula? betul! memang itu kenyataannya!) Itulah balasan Allah, sebagaimana sabda nabi Muhammad saw mengenai hal ini: "orang ini beramal sedikit tetapi mendapatkan kebaikan yang sangat banyak."
Yang ketiga, diwakili oleh seorang pemberani yang hebat di medan peperangan, menurut suatu sirah beliau ketika berhadapan dengan musuh dapat melumpuhkan 8 sampai 9 orang lawan ketika itu juga, namun sayang ... ketidaksabarannya mengantarkan dia menjadi penghuni neraka, ia lebih mementingkan kecintaan terhadap kelompoknya, yang seharusnya dia tidak boleh seperti itu, berbeda dengan dua orang sahabat terdahulu karena mereka lebih mengutamakan cinta terhadap Allah dan rasulnya maka rasul menjamin keduanya masuk surga.
Dia bernama Quzman! ada juga yang memanggilnya quzaman. Rasulullah saw sepertinya mendapatkan wahyu tentang nasib orang ini, karena bagaimana mungkin rasul sekonyong-konyong mengatakan kepada seseorang ahli neraka, kalau hal itu tidak ada kabar wahyu sebelumnya (kalau memang demikian hal ini tidak selaras dengan ajaran islam, karena apabila seseorang menuduh kepada orang lain dengan tuduhan tertentu padahal tertuduh tidak layak dikatakan seperti itu, maka penuduh yang menjadi menjadi tertuduh).
Berbeda dengan para sahabat ketika mendengar rasul mengatakan hal itu, sontak para sahabat kaget karena mereka melihat keberanian dari seorang quzman yang gagah berani di medan perang yang pada akhirnya rasul mengatakan bahwa dia ahli neraka, ketika para sahabat mendekatinya untuk menghibur dengan kata-kata sabar, yang didapati malah keluar ucapan dari mulutnya:
والله ما قاتلت إلا عن أحساب قومي
Demi allah aku berperang hanya karena pertimbangan kaumku!
Subhanallah ... Sumpah yang benar karena alasan yang tidak benar itu akan menjadi tidak benar, karena kebenaran itu sendiri telah dikalahkan oleh alasan yang sebenarnya itu tidak boleh terjadi.
Bersumpah atas nama Allah dengan menjadikan Allah tidak layak disimpan di tempat yang tidak sepantasnya, karena kepentingan tertentu, hal itu menjadikan Quzman lupa diri sebagaimana di dalam surat al-Hasyr Allah menjelaskan: "Janganlah kalian seperti orang yang lupa terhadap Allah, maka Allah pun akan menjadikannya lupa terhadap dirinya sendiri. (Maha Benar Allah atas segala firman-Nya)
Ternyata benar, pilihan Quzman yang lebih mementingkan kecintaan terhadap kelompoknya, dan ketidaksabarannya menghadapi derita yang dialami, beliau memilih bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya! ketika Rasulullah dikabari kejadian tentang meninggalnya Quzman dan bagaimana kejadiannya, rasulullah saw berteriak dengan mengatakan: "Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku ini hamba Allah dan Rasul-Nya". Kemudian Beliau memerintahkan Bilal agar menyerukan manusia bahwa tidak akan masuk surga melainkan jiwa yang pasrah dan Allah bisa jadi menolong agama ini melalui seorang yang berdosa".
Pelajaran terbesar dari ketiga sahabat di atas adalah semuanya bermuara kepada kecintaan terhadap sesuatu, manakala Allah, Rasul, dan Jihad di jalan-Nya lebih diutamakan di atas segalanya maka janji Allah pun diberikan tidak hanya nanti di akhirat tapi di dunia sebagaimana yang dialami oleh Sa'ad bin Rabbi, begitupun sebaliknya apabila pilihan jatuh kepada selain Allah, Rasul, dan jihad di jalan-Nya, maka yang terjadi adalah mendapatkan kerugian yang abadi, sebagaimana yang Allah firmankan di dalam surat at-Taubah ayat 24, yang artinya:
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Begitupun apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw, beliau mengutus Zaid bin Tsabit untuk mencari beberapa orang sahabat yang mungkin masih bisa ditolong. Pada waktu itu tepatnya sehabis peperangan uhud, Rasulullah menyuruh kepada Zaid bin Tsabit untuk mencari Sa'ad bin Rabi', hal itu diperintahkan Rasulullah saw karena beliau melihat secara langsung bagaimana ujung-ujung tombak masih menancap padanya, seraya berkata kepada Zaid bin Tsabit: "Jika engkau menemukannya, sampaikan ada salam dari ku, beliau juga menyuruh untuk menanyakan apa yang telah dia dapatkan? (dari peperangan ini)
Pergilah beliau mencari Sa'ad bin Rabi', setelah berkeliling mencari, didapati ia dalam keadaan luka parah dengan tujuh puluh luka yang menganga, lalu Zaid bin Tsabit rs. berkata kepdanya:
يا سعد . إن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقرأ عليك السلام ، ويقول لك : أخبرني كيف تجدك؟
"Ya Sa'ad sesungguhnya Rasulullah saw mengirim salam kepadamu, dan beliau menyuruh untuk menanyakan apa yang kamu dapatkan"?
فقال : وعلى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - السلام . قل له : يا رسول الله أجد ريح الجنة
"Katakan kepada Rasulullah saw, aku mencium harum surga",
وقل لقومي الأنصار : لا عذر لكم عند الله إن خُلص إلى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وفيكم عين تطرف
Katakan pula kepada kaumku Anshar: Kalian tidak perlu lagi mencari alasan di sisi Allah nanti, jika memang Rasulullah saw selamat dan kalian melihat dengan mata kalian sendiri." Setelah itu ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Pada kesempatan yang sama para sahabat menemukan orang yang bernama Ushairim, sebagaimana yang disebutkan sahabat Abu Hurairah ra., ia berkata: “Ceritakan kepadaku orang yang masuk Surga tanpa pernah mengerjakan shalat sekalipun. Jika orang-orang tidak mengenalnya, mereka bertanya kepadanya (Abu Hurairah), ia menjawab bahwa orang tersebut adalah Ushairim, seorang dari Bani Abdul Asyhal, yakni Amr bin Tsabit bin Waqasy. Al-Hushain berkata: ‘Aku bertanya kepada Mahmud bin Asad: “Bagaimana perihal keadaan Ushairim?” Dia menjawab: “Sebelumnya Ushairim tidak menghendaki Islam tersebar di tengah kaumnya. Namun ketika Rasulullah berangkat ke Uhud, tiba-tiba timbul keinginan di hatinya untuk masuk Islam. Kemudian ia pun masuk Islam. Setelah itu ia mengambil pedang dan berangkat ke Uhud hingga tiba di tengah peperangan. Ia bertempur hingga terluka. Ketika orang-orang dari Bani Abdul Asyhal mencari korban-korban mereka di perang Uhud, mereka menemukan Ushairim. Mereka berkata: “Demi Allah ini adalah Ushairim, mengapa mereka datang kemari? Sungguh kami tinggalkan ia karena ia tidak mempercayai berita ini.” Maka mereka bertanya kepada Ushairim apa yang menyebabkan ia datang ke Uhud. Mereka bertanya:
مَا جَاءَ بِك يَا عَمْرُو ؟ أَحَدَبٌ عَلَى قَوْمِك أَمْ رَغْبَةٌ فِي الْإِسْلَامِ؟
“Apa yang mendorongmu datang kemari, wahai Abu Amr, apakah karena kecintaanmu kepada kaummu ataukah kecintaanmu kepada Islam?”
بَلْ رَغْبَةٌ فِي الْإِسْلَامِ آمَنْت بِاَللّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَسْلَمْت
Ushairim menjawab: “Aku datang karena kecintaanku kepada Islam. Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta masuk Islam.
Setelah itu aku mengambil pedang dan menyusul Rasulullah, lalu bertempur hingga terluka seperti ini.” Tidak lama setelah itu Ushairim menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan mereka. Kemudian mereka menyampaikan perihal Ushairim kepada Rasulullah dan beliau bersabda: “Sungguh ia termasuk penghuni Surga.”
Dikisahkan dalam sebuah hadis Sumber Bukhari, Kitab : Jihad dan penjelajahan, Bab : Sesungguhnya Allah akan menguatkan agama ini dengan orang durhaka (fajir), No. Hadist : 2834 :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ شَهِدْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يَدَّعِي الْإِسْلَامَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلَمَّا حَضَرَ الْقِتَالُ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالًا شَدِيدًا فَأَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الَّذِي قُلْتَ لَهُ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّهُ قَدْ قَاتَلَ الْيَوْمَ قِتَالًا شَدِيدًا وَقَدْ مَاتَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى النَّارِ قَالَ فَكَادَ بَعْضُ النَّاسِ أَنْ يَرْتَابَ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذَلِكَ إِذْ قِيلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلَكِنَّ بِهِ جِرَاحًا شَدِيدًا فَلَمَّا كَانَ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى الْجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ثُمَّ أَمَرَ بِلَالًا فَنَادَى بِالنَّاسِ إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; "Ketika kami sedang ikut dalam suatu peperangan bersama Rasulullah saw., Beliau berkata kepada seseorang yang mengaku dirinya telah masuk Islam; "Orang ini termasuk penduduk neraka". Ketika terjadi peperangan orang tadi berperang dengan sangat berani lalu dia terluka kemudian dikatakan (kepada Beliau); "Wahai Rasulullah, orang yang Baginda maksudkan tadi sebagai penduduk neraka, dia telah berperang hari ini dengan sangat berani dan dia telah gugur". Maka Nabi saw. berkata: "Dia akan masuk neraka". (Abu Hurairah) berkata; "Orang-orang semuanya jadi Ragu. Ketika dalam keraguan seperti itu, ada orang yang mengabarkan bahwa orang yang berperang tadi tidaklah mati melainkan setelah mendapatkan luka yang sangat parah namun ketika pada malam harinya dia tidak shabar atas luka yang dideritanya hingga akhirnya dia bunuh diri. Kejadian ini kemudian dikabarkan kepada Nabi saw., maka Nabi saw. bersabda: "Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku ini hamba Allah dan Rasul-Nya". Kemudian Beliau memerintahkan Bilal agar menyerukan manusia bahwa tidak akan masuk surga melainkan jiwa yang pasrah dan Allah bisa jadi menolong agama ini melalui seorang yang berdosa".
Yang menarik dari akhir kehidupan tiga sahabat di atas adalah adanya pembicaraan "kaum = قوم" yang berkaitan dengan wasiat, peringatan, dan bahan renungan bagi kita. Yang mana kaitannya dengan ke tiga sahabat tersebut semuanya berbeda satu sama lain; 1) Ada yang kaitannya karena menjalankan wasiat untuk menjalankan perintah kebajikan, 2) Ada yang niatnya karena memilih keislaman, dan 3) dan ada yang niatnya karena suatu kaum.
Yang pertama, diwakili oleh sahabat Sa'ad bi Rabi', ia menjadikan ketaatan di atas segalanya, ia membuktikan kecintaan terhadap rasul-Nya sebagai ketaatan yang semestinya (Taat kepada Allah, taat kepada rasul-Nya), itu tercermin ketika dia mengatakan kepada sahabat Zaid dengan perkataan : "Katakan pula kepada kaumku Anshar: Kalian tidak perlu lagi mencari alasan di sisi Allah nanti, jika memang Rasulullah saw selamat dan kalian melihat dengan mata kepala sendiri.
Hal tersebut merupakan cerminan keimanan yang sesungguhnya, yakni menjadikan kecintaan terhadap Allah dan rasul-Nya di atas segalanya, sehingga tercermin dari wasiat kepada kaumnya, dengan kata-kata yang seolah-olah ia memerintahkan untuk mewujudkan kecintaan tersebut kepada rasulullah saw.
Subhanallah, balasan Allah tidak hanya di akhirat nanti untuk kemuliaan seorang Sahabat seperti sa'ad bin Rabi', namun Allah memberikan kebahagiaan itu dengan bau harum surga yang ia cium ketika ia masih di dunia waktu menjelang ajalnya. (Dengan pertanyaan rasulullah saw kepada beliau mengenai apa yang telah didapatkannya, itu menunjukan bahwa perhatian rasulullah saw terhadap keikhlasan seseorang sangat diperhatikan, mungkin tanggung jawab moral sudah menjadi ahlak beliau ketika merespon kebaikan, ketika melihat ahlak seorang Sa'ad bin Rabi')
Yang ke dua, diwakili oleh sahabat Ushairim, walaupun kata sahabat Abu Hurairah beliau belum sempat melakukan shalat, tapi beliau mampu membedakan mana hal yang harus disimpan di awal, di tengah, dan di akhir, beliau bisa memprioritaskan masalah, bahkan beliau dengan cerdas memilih keikhlasan yang tentunya hal tersebut yang mengantarkan dia mendapatkan jawaban dari tindakan ikut ke medan perang bersama rasulullah saw.
Ketika para sahabat menanyakan kebenaran tentang keislamannya, maka dengan mantap dia menjawab: "Aku telah islam dan aku lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah dan rasulnya dibandingkan harus lebih memilih kecintaanku terhadap kaumku. sehingga ketika hal ini sampai kepada rasulullah saw, beliau bersabda: “Sungguh ia termasuk penghuni Surga.”
Ya surga! Balasan bagi orang yang mengutamakan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, karena dia telah memilih Allah, rasul-Nya, dan jihad di jalan Allah sebagai komando yang menggerakan hatinya untuk melesat ke depan (tapi kan keburu meninggal belum sholat pula? betul! memang itu kenyataannya!) Itulah balasan Allah, sebagaimana sabda nabi Muhammad saw mengenai hal ini: "orang ini beramal sedikit tetapi mendapatkan kebaikan yang sangat banyak."
Yang ketiga, diwakili oleh seorang pemberani yang hebat di medan peperangan, menurut suatu sirah beliau ketika berhadapan dengan musuh dapat melumpuhkan 8 sampai 9 orang lawan ketika itu juga, namun sayang ... ketidaksabarannya mengantarkan dia menjadi penghuni neraka, ia lebih mementingkan kecintaan terhadap kelompoknya, yang seharusnya dia tidak boleh seperti itu, berbeda dengan dua orang sahabat terdahulu karena mereka lebih mengutamakan cinta terhadap Allah dan rasulnya maka rasul menjamin keduanya masuk surga.
Dia bernama Quzman! ada juga yang memanggilnya quzaman. Rasulullah saw sepertinya mendapatkan wahyu tentang nasib orang ini, karena bagaimana mungkin rasul sekonyong-konyong mengatakan kepada seseorang ahli neraka, kalau hal itu tidak ada kabar wahyu sebelumnya (kalau memang demikian hal ini tidak selaras dengan ajaran islam, karena apabila seseorang menuduh kepada orang lain dengan tuduhan tertentu padahal tertuduh tidak layak dikatakan seperti itu, maka penuduh yang menjadi menjadi tertuduh).
Berbeda dengan para sahabat ketika mendengar rasul mengatakan hal itu, sontak para sahabat kaget karena mereka melihat keberanian dari seorang quzman yang gagah berani di medan perang yang pada akhirnya rasul mengatakan bahwa dia ahli neraka, ketika para sahabat mendekatinya untuk menghibur dengan kata-kata sabar, yang didapati malah keluar ucapan dari mulutnya:
والله ما قاتلت إلا عن أحساب قومي
Demi allah aku berperang hanya karena pertimbangan kaumku!
Subhanallah ... Sumpah yang benar karena alasan yang tidak benar itu akan menjadi tidak benar, karena kebenaran itu sendiri telah dikalahkan oleh alasan yang sebenarnya itu tidak boleh terjadi.
Bersumpah atas nama Allah dengan menjadikan Allah tidak layak disimpan di tempat yang tidak sepantasnya, karena kepentingan tertentu, hal itu menjadikan Quzman lupa diri sebagaimana di dalam surat al-Hasyr Allah menjelaskan: "Janganlah kalian seperti orang yang lupa terhadap Allah, maka Allah pun akan menjadikannya lupa terhadap dirinya sendiri. (Maha Benar Allah atas segala firman-Nya)
Ternyata benar, pilihan Quzman yang lebih mementingkan kecintaan terhadap kelompoknya, dan ketidaksabarannya menghadapi derita yang dialami, beliau memilih bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya! ketika Rasulullah dikabari kejadian tentang meninggalnya Quzman dan bagaimana kejadiannya, rasulullah saw berteriak dengan mengatakan: "Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku ini hamba Allah dan Rasul-Nya". Kemudian Beliau memerintahkan Bilal agar menyerukan manusia bahwa tidak akan masuk surga melainkan jiwa yang pasrah dan Allah bisa jadi menolong agama ini melalui seorang yang berdosa".
Pelajaran terbesar dari ketiga sahabat di atas adalah semuanya bermuara kepada kecintaan terhadap sesuatu, manakala Allah, Rasul, dan Jihad di jalan-Nya lebih diutamakan di atas segalanya maka janji Allah pun diberikan tidak hanya nanti di akhirat tapi di dunia sebagaimana yang dialami oleh Sa'ad bin Rabbi, begitupun sebaliknya apabila pilihan jatuh kepada selain Allah, Rasul, dan jihad di jalan-Nya, maka yang terjadi adalah mendapatkan kerugian yang abadi, sebagaimana yang Allah firmankan di dalam surat at-Taubah ayat 24, yang artinya:
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Rabu, 14 Juli 2010
MENUJU KEIMANAN YANG HAKIKI
SAUDARAKU ...
TERNYATA ... KETIKA IMAN LEMAH APA PUN BISA TERJADI
CEPAT TERBUAI RAYUAN ...
RAYUAN JAMA'AH SESAT, RAYUAN MENGGODA, RAYUAN SYETAN, DAN RAYUAN YANG BANYAK LAGI TENTUNYA!
MAKA DARI ITU KOKOHKANLAH IMANMU AT THIS VERY MOMENT
JAGALAH MATA JANGAN SAMPAI IA MELIHAT SESUATU YANG MEMBUAT ALLOH MURKA!
KARENANYA TIDAK SEDIKIT ORANG YANG HANCUR KEHIDUPANNYA... (KETIKA ANDA BISA MENJAGANYA ALLAH MENJADIKAN ITU SEBAGAI PUPUK KEIMANAN YANG AKAN SEMAKIN KUAT TUMBUH DALAM DIRI ANDA)
SAUDARAKU .... INSYA-ALLOH SELAMA ANDA ADA KEMAUAN UNTUK TOBAT, SEBESAR APA PUN DOSA, MAKSIAT, KEDURHAKAAN ANDA ITU TIDAK AKAN MELEBIHI KASIH SAYANG-NYA KEPADA KITA
ADA PELAJARAN DARI ORANG YANG KENA RAYUAN JAMAAH SESAT...
KESALAHAN YANG DILAKUKAN SEORANG MANUSIA APA PUN NAMANYA... TIDAK AKAN MUNGKIN TERAMPUNI SELAMA TIDAK MASUK KELOMPOKNYA, BAHKAN TIDAK HANYA ITU, SHALAT KITA ... SHAUM KITA ... MUAMALAH KITA ... POKONYA SEMUANYA TERTOLAK SELAMA KITA BELUM BERBAIAT KEPADA AMIRNYA! EH KATANYA ADA LOH YANG MEMBASUH BEKAS SHOLAT KITA! KELOMPOK SEPERTI INI BANYAK SAUDARAKU! MAKA DARI ITU KOKOHKAN IMAN MU AT THIS VERY MOMENT!
JAGALAH DIRI KITA, KELUARGA KITA, SELURUH KAUM MUSLIMIN UNTUK TIDAK IKUT-IKUTAN MENGKAFIRKAN ORANG YANG MENGAKU ALLOH SEBAGAI TUHAN-NYA, MUHAMMAD SEBAGAI NABINYA, AL-QURAN SEBAGAI KITABNYA! TAPI INSYA-ALLOH KALAU MASIH ADA HIDAYAH YANG MENUNJUKAN KEBENARAN KEPADA MEREKA BUKAN ITU SEBENARNYA YANG DIPERINTAHKAN ALLOH KEPADA MEREKA ... KITA SEMAKIN YAKIN BAHWA ADA BRAINWASHING AGAR KITA SEMAKIN JAUH SATU SAMA LAIN!
SAUDARAKU INGATLAH
TERNYATA ... KETIKA IMAN LEMAH APA PUN BISA TERJADI
CEPAT TERBUAI RAYUAN ...
RAYUAN JAMA'AH SESAT, RAYUAN MENGGODA, RAYUAN SYETAN, DAN RAYUAN YANG BANYAK LAGI TENTUNYA!
MAKA DARI ITU KOKOHKANLAH IMANMU AT THIS VERY MOMENT
JAGALAH MATA JANGAN SAMPAI IA MELIHAT SESUATU YANG MEMBUAT ALLOH MURKA!
KARENANYA TIDAK SEDIKIT ORANG YANG HANCUR KEHIDUPANNYA... (KETIKA ANDA BISA MENJAGANYA ALLAH MENJADIKAN ITU SEBAGAI PUPUK KEIMANAN YANG AKAN SEMAKIN KUAT TUMBUH DALAM DIRI ANDA)
SAUDARAKU .... INSYA-ALLOH SELAMA ANDA ADA KEMAUAN UNTUK TOBAT, SEBESAR APA PUN DOSA, MAKSIAT, KEDURHAKAAN ANDA ITU TIDAK AKAN MELEBIHI KASIH SAYANG-NYA KEPADA KITA
ADA PELAJARAN DARI ORANG YANG KENA RAYUAN JAMAAH SESAT...
KESALAHAN YANG DILAKUKAN SEORANG MANUSIA APA PUN NAMANYA... TIDAK AKAN MUNGKIN TERAMPUNI SELAMA TIDAK MASUK KELOMPOKNYA, BAHKAN TIDAK HANYA ITU, SHALAT KITA ... SHAUM KITA ... MUAMALAH KITA ... POKONYA SEMUANYA TERTOLAK SELAMA KITA BELUM BERBAIAT KEPADA AMIRNYA! EH KATANYA ADA LOH YANG MEMBASUH BEKAS SHOLAT KITA! KELOMPOK SEPERTI INI BANYAK SAUDARAKU! MAKA DARI ITU KOKOHKAN IMAN MU AT THIS VERY MOMENT!
JAGALAH DIRI KITA, KELUARGA KITA, SELURUH KAUM MUSLIMIN UNTUK TIDAK IKUT-IKUTAN MENGKAFIRKAN ORANG YANG MENGAKU ALLOH SEBAGAI TUHAN-NYA, MUHAMMAD SEBAGAI NABINYA, AL-QURAN SEBAGAI KITABNYA! TAPI INSYA-ALLOH KALAU MASIH ADA HIDAYAH YANG MENUNJUKAN KEBENARAN KEPADA MEREKA BUKAN ITU SEBENARNYA YANG DIPERINTAHKAN ALLOH KEPADA MEREKA ... KITA SEMAKIN YAKIN BAHWA ADA BRAINWASHING AGAR KITA SEMAKIN JAUH SATU SAMA LAIN!
SAUDARAKU INGATLAH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."
SATU LAGI SAUDARAKU... RAYUAN SYETAN ... SEMUA DI ATAS BIANG KEROKNYA ADALAH dIA ...
LALU APA PENYEBABNYA? ITU TADI IMAN KITA BELUM TERUJI... KITA MASIH SUKA SU'U DZAN, KITA MASIH SUKA MENYEPELEKAN ORANG LAIN, MERASA BENAR SENDIRI BAHKAN KITA YAKIN ALLOH BAKAL NGASIH SURGA SEMENTARA AHLAK JAUH DARI SIFAT-SIFAT ORANG YANG AKAN MENDAPATKANNYA, KALAU PUN KITA DAKWAH HANYA UNTUK KELOMPOK KITA (YANG NOTABENE LAHIRNYA KELOMPOK SESAT ITU KARENA MEREKA SUDAH TIDAK PERCAYA LAGI SAMA KITA - YANG SUKA NGOMONGIN KEJELEKAN DI ANTARA KITA, KEKURANGAN DIANTARA KITA DLL -)
SAUDARAKU SADARLAH
MALULAH KITA PADA ANAK MUDA YANG NAIK SEPEDA YANG DI BELAKANG KAOSNYA TERTULIS :
SELAMA TUHAN-NYA ALLOH NABINYA MUHAMMD SAW, DAN KITABNYA AL-QUR'AN ITU ADALAH SAUDARA KITA SEIMAN! then consider working with faith
Langganan:
Postingan (Atom)