“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung“. (QS. Al Hasyr, ayat 8-9)
Dalam ayat di atas, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyebutkan keutamaan kaum Muhajirin, dan setelah itu baru menyebutkan keutamaan kaum Anshar. Kaum Muhajirin mendapat gelar “orang-orang yang benar”, dan kaum Anshar mendapat gelar “orang-orang yang beruntung”.
Allah mengajarkan kita untuk saling menghargai, saling mengakui perbedaan di antara kelompok kaum muslimin, malah dengan adanya perbedaan itu Allah memerintahkan kepada kita semua untuk berlomba-lomba, berkompetisi mencari serta mengerjakan kebaikan sebanyak-banyaknya. Sebagaimana firman Allah di dalam surat al-Maidah ayat 48, yang artinya:
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
Bukan tidak mampu Allah menjadikan umat ini menjadi satu umat saja, namun dengan perbedaan yang dikehendaki manusia sendiri justeru Allah memberi jalan kepada mereka untuk membuktikan hasil renungannya di dalam menghayati kehidupan ini, bukankah hidup itu merupakan ujian yang harus kita tempuh? sebagaimana firmannya di dalam surat al-mulk ayat 2, yang artinya : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Sejalan dengan fitrah agama yang Allah turunkan kepada umatnya yang tidak memaksakan kehendak, dengan ini pun Allah memberikan pelajaran kepada nabi Muhammad saw dengan sebuah do'a di dalam shalat yang dilakukan olehnya sepanjang malam yang tidak biasa dilakukan oleh beliau di dalam shalat malam shalat malam sebelumnya, sebagaimana yang diriwayatkan imam Ahmad berikut ini:
Telah menceritakan kepada kami Yunus dia berkata, telah menceritakan kepada kami Laits dari Abu Wahb Al Khaulani dari seorang laki-laki yang ia sebutkan namanya, dari Abu Bashrah Al Ghifari seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku meminta kepada Rabbku Azza wa Jalla empat perkara, lalu Dia memberiku tiga perkara dan menolak satu perkara; aku meminta kepada Rabbku agar umatku tidak bersepakat atas kesesatan lalu Dia mengabulkannya, lalu aku meminta Allah Azza wa Jalla agar tidak membinasakan kalian dengan paceklik sebagaimana dibinasakannya umat sebelum kalian lalu Dia mengabulkannya, dan aku meminta Allah Azza wa Jalla agar tidak menjadikan mereka bergolong-golongan dan sebagian mereka memerangi sebagian yang lain, namuan Dia menolaknya." Sumber : Ahmad, Kitab : Musnad dari beberapa kabilah, Bab : Hadits Abu Bashrah Al Ghifari Radliyallahu 'anhu, No. Hadist : 25966
Subhanallah! Maha benar Allah atas segala firman-Nya ternyata penolakan Allah tersebut membuktikan bahwa Allah memberikan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya untuk memubuktikan ajaran ini dengan sejelas-jelasnya. Bukankah nabi Ibrahim karena ketidakjelasannya ibadah, beliau pernah menyembah bulan yang pada akhirnya tidak dia sembah ketika tidak muncul di siang hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar